Senin, 10 September 2012

tata letak bangunan bali menurut asta kosala kosali


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bangunan tradisional Bali dibangun menurut Asta Kosala Kosali yang  merupakan Fengshui-nya Bali, adalah sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk bangunan tempat tinggal serta bangunan tempat suci yang ada di Bali yang sesuai dengan landasan Filosofis, Etis, dan Ritual dengan memperhatikan konsepsi perwujudan, pemilihan lahan, hari baik (dewasa) membangun rumah, serta pelaksanaan yadnya.
Untuk melakukan pengukurannya pun lebih menggunakan ukuran dari Tubuh yang mpunya rumah. mereka tidak menggunakan meter tetapi menggunakan seperti
  • Musti(ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas),
  • Hasta(ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka)
  • Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan)

1.2 RUMUSAN MASALAH
š Bagaimana cara memilih tanah pekarangan ?
š Kapan dewasa untuk membangun rumah ?
š Upacara apa saja yang dilakukan sebelum membangun rumah ?
š Bagaimana tata letak rumah menurut Asta Kosala Kosali ?
š Bagaimana tatanan letak rumah menurut Asta Kosala Kosali ?
š Apa fungsi dari masing-masing bagunan rumah ?

1.3 TUJUAN
š Untuk mengetahui cara memilih tanah pekarangan
š Untuk mengetahui dewasa untuk membangun rumah
š Untuk mengetahui  Upacara yang dilakukan sebelum membangun rumah
š Untuk mengetahui tata letak rumah menurut Asta Kosala Kosali
š Untuk mengetahui tatanan letak rumah menurut Asta Kosala Kosali
š Untuk mengetahui dari masing-masing bagunan rumah

1.4 MANFAAT
š Dapat mengetahui cara memilih tanah pekarangan
š Dapat mengetahui dewasa untuk membangun rumah
š Dapa mengetahuiUpacara yang dilakukan sebelum membangun rumah
š Dapat mengetahui tata letak rumah menurut Asta Kosala Kosali
š Dapat mengetahui tatanan letak rumah menurut Asta Kosala Kosali
š Dapat mengetahui dari masing-masing bagunan rumah






















              BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Cara memilih tanah pekarangan
1.  Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, pelemahan marubu lalah(berbau pedas). Membuat rumah yang dapt mendatangkan keberuntungan bagi penghuninya,bagi rohaniwan dari Banjar Semaga,Desa Penatih,Denpasar ini harus diawali dengan pemilihan lokasi (tanah) yang pas.Lokasi yang bagus dijadikan bagunan adalah tanah yang posisinya lebih rendah (miring) ke timur (sebelum direklamasi). Namun di luar lahan bukan milik kita,posisinya lebih tinggi.Demikian juga tanah bagian utaranya juga harus lebih tinggi.Bila tanah di pinggir jalan,usahakan posisinya tanah dipeluk jalan.Sangat baik bila ada air di arah selatan tetapi bukan dari sungai yang mengalir deras.Air harus berjalan pelan,tetapi posisi sungai juga harus memeluk tanah ,bukan sebaliknya menebas lokasi tanah.Diyakini,aliran air yang lambat membuat Dewa air sebagai pembawa kesuburan dan rejeki banyak terserap dalam deras.
Selain letak tanah,tekstur tanah juga harus dipastikan memiliki kualitas baik.Tanah berwarna kemerahan dan tidak berbau termasuk jenis tanah yang bagus untuk tempat tinggal.Untuk menguji tekstur tanah,cobalah genggam tanah tersebut.Jika setelah lepas dari genggaman tanah itu terurai lagi,berarti kualitas tanah tersebut cocok dipilih untuk lokasi perumahan.Cara lain untuk menguji tekstur tanah yang baik adalah dengan cara melubangi tanah tersebut sedalam 40 Cm persegi.Kemudian lubang itu diurug (ditimbun) lagi dengan tanah galian tadi.
Jika lubang penuh atau kalau bisa ada sisa oleh tanah urugan itu, berati tanah itu bagus untuk rumah.Sebaliknya jika tanah untuk menutup lubang tidak bisa memenuhi (jumlahnya kurang) berati tanah tersebut tidak bagus dan tidak cocok untuk rumah karena tergolong tanah anggker.Akan lebih baik memilih tanah yang terletak di utara jalan karena lebih mudah untuk melakukan penataan bangunan menurut konsep Asta kosala-kosali.Misalnya membuat pintu masuk rumah,letak bangunan,dan tempat suci keluarga (merajan/sanggah).Lokasi seperti ini memungkinkan untuk menangkap sinar baik untuk kesehatan.Tata letak pintu masuk yang sesuai,akan memudahkan menangkap Dewa Air mendatangkan rejeki.

2. Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah:
a)      karang karubuhan (tumbak rurung/ jalan),
b)       karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan),
c)      karang sulanyapi (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan)
d)     karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/ jalan),
e)      karang teledu nginyah (karang tumbak tukad),
f)       karang gerah (karang di hulu Kahyangan),
g)      karang tenget,
h)      karang buta salah wetu,
i)        karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi),
j)        karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah tanah yang berwarna hitam- legam, berbau “bengualid” (busuk)
3. Tanah- tanah yang tidak baik (ala) tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun perumahan jikalau disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/ upakara pamarisuda.
4. Perumahan Dengan Pekarangan Sempit, bertingkat dan Rumah Susun.

2.2 Dewasa untuk membangun rumah
a.      Dewasa Ngeruwak :
Wewaran : Beteng, Soma, Buda, Wraspati, Sukra, Tulus, Dadi.
Sasih: Kasa, Ketiga, Kapat, Kedasa.
b.      Nasarin :
Wewaran: Beteng, soma, Budha, Wraspati, Sukra, was, tulus, dadi,
Sasih: Kasa, Katiga, Kapat, Kalima. Kanem.
c.       Nguwangun
Wewaran: Beteng, Soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
d.      Mengatapi
Wewaran : Beteng, was, soma, Budha, Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
Dewasa ala : geni Rawana, Lebur awu, geni murub, dan lain- lainnya.
e.       Memakuh/ Melaspas
Wewaran : Beteng, soma, Budha. Wraspati, Sukra, tulus, dadi.
Sasih : Kasa, Katiga, Kapat, Kadasa.


2.3 Upacara sebelum membangun rumah
a)      Upacara Nyapuh sawah dan tegal.
Apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal.
Jenis upakara : paling kecil adalah tipat dampulan, sanggah cucuk, daksina l, ketupat kelanan, nasi ireng, mabe bawang jae. Setelah “Angrubah sawah” dilaksanakan asakap- sakap dengan upakara Sanggar Tutuan, suci asoroh genep, guling itik, sesayut pengambeyan, pengulapan, peras panyeneng, sodan penebasan, gelar sanga sega agung l, taluh 3, kelapa 3, benang + pipis.
b)      Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan.
Upakaranya ngeruwak bhuwana adalah sata/ ayam berumbun, penek sega manca warna.Upakara Nanem dasar: pabeakaonan, isuh- isuh, tepung tawar, lis, prayascita, tepung bang, tumpeng bang, tumpeng gede, ayam panggang tetebus, canang geti- geti.
c)      Upakara Pemelaspas.
Upakaranya : jerimpen l dulang, tumpeng putih kuning, ikan ayam putih siungan, ikan ayam putih tulus, pengambeyan l, sesayut, prayascita, sesayut durmengala, ikan ati, ikan bawang jae, sesayut Sidhakarya, telur itik, ayam sudhamala, peras lis, uang 225 kepeng, jerimpen, daksina l, ketupat l kelan, canang 2 tanding dengan uang II kepeng. Oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat berbeda, maka upacara

2.4 Tata Letak Bangunan
Setelah direklamasi (ditata) diusahkan bangunan yang terletak di timur,lantainya lebih tinggi sebab munurut masyarakat bali selatan umumnya,bagian timur dianggap sebagai hulu(kepala)yang disucikan.Sedangkan menurut fungsui,posisi bangunan seperti itu memberi efek positif.Sinar matahari tidak terlalu kencang,dan air tidak sampai ke bagian hulu.Bagunan yang cocok untuk ditempatkan diareal itu adalah tempat suci keluarga yg disebut merajan atau sanggah.Dapur diletakan di arah barat (barat daya) dihitung dari tempat yang di anggap sebagai hulu (tempat suci) atau di sebelah kiri pintu masuk areal rumah, karena menurut konsep lontar Asta Bumi,tempat ini sebagai letak Dewa Api.
Sumur dan lumbung tempat penyimpanan padi sedapat mungkin diletakan di sebelah timur atau utara dapur.Atau di sebelah kanan pintu gerbang masuk rumah karena melihat posisi Dewa Air.Bangunan balai Bandung (tempat tidur) diletakan diarah utara,sedangkan balai adat atau balai gede ditempatkan disebelah timur dapur dan diselatan balai Bandung.Bangunan penunjang lainnya diletakkan di sebelah selatan balai adat.
Pintu Masuk
Selain menemukan posisinya yang tepat untuk menangkap dewa air sebagai sumber rejeki ukuran pintu masuk juga harus diatur. Jika membuat pintu masuk lebih dari satu,lebar pintu masuk utama dan lainya tidak boleh sama.Termasuk tinggi lantainya juga tidak boleh sama. Lantai pintu masuk utama (dibali berbentuk gapura/angkul – angkul) harus dibuat lebih tinggi dari pintu masuk mobil menuju garase.jika dibuat sama akan memberi efek kurang menguntungkan bagi penghuninya bisa boros atau sakit-sakitan.Akan sangat bagus bila di sebelah kiri (sebelah timur jika rumah mengadap selatan) diatur jambangan air (pot air) yang disi ikan.
Ini sebagai pengundang Dewa Bumi untuk memberi kesuburan seisi rumah.Tak menempatkan benda – benda runcing dan tajam yang mengarah ke pintu masuk rumah seperti penempatan meriam kuno,tiang bendera,listrik dan tiang telepon atau tataman yang berbatang tinggi seperti pohon palm,karena membuat penghuninya sakit sakitan akibat tertusuk.Got dan tempat pembungan kotoran sedapat mungkin di buat di posisi hilir dan lebih rendah dari pintu masuk.Kalau menempatkan kolam di pekarangan rumah hendaknya dibuat di atas permukaan tanah(bukan lobang).Kolam di buat di sebelah kanan pintu masuk dengan posisi memelu rumah,bukan berlawanan.Karena keberadaan kolam yang tidak sesuai akan mempengaruhi kesehatan penghuni rumah. (umahbali)

2.5 Tatanan letak rumah menurut Asta Kosala Kosali

Asta Kosala Kosali adalah teknik penataan rumah atau bangunan suci di Bali. Penataan ini biasanya didasarkan oleh anatomi tubuh manusia. Biasanya yang melakukang pengukuran ini adalah para pemuka agama atau biasa disebut pemangku. Pengukuran didasarkan pada ukuran tubuh, tidak menggunakan meter.
  • Musti(ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas).
  • Hasta(ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka).
  • Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan).
Konsep penataan Rumah di Bali juga didasarkan oleh Buana Agung (Makrokosmos) dan Buana Alit (Mikrokosmos). Berikut penggambarannya :
  1. Bhur alam semesta, tempat bersemayamnya para dewa.
  2. Bwah, alam manusia dan kehidupan keseharian yang penuh dengan godaan duniawi, yang berhubungan dengan materialisme
  3. Swah, alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma.
Asta Kosala Kosali juga berpatokan pada Nawa Sanga (9 mata angin). Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri. Seperti :
  • Dapur, di selatan karena berhubungan dengan Api
  • Tempat Sembah di tempatkan di Timur tempat matahari Terbit karena berhubungan dengan menyembah.
  • Sumur menjadi sumber Air maka ditempatkan di Utara dimana Gunung berada.

2.5 Fungsi bagian-bagian rumah
  • Angkul-angkul yaitu berfungsi sebagi gapura sebagai pintu masuk.
  • Aling-aling, ini berupa pembatas berupa tembok pada saat baru masuk dari angku-angkul agar pandangan dari luar tidak bisa langsung melihat ke dalam.
  • Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
  • Pamerajan, ini adalah tempat yang paling disucikan di dalam rumah, posisinya berada di Timur Laut. Ditempat ini seluruh penghuni rumah melakukan persembahyangan setiap harinya.
  • Umah Meten, bangunan ini juga biasa disebut gedong, di bangunan ini biasanya di tempati oleh orang yang paling tertua di rumah.
  • Bale tiang sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu.
  • Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anakanak atau anggota keluarga lain yang masih junior.
  • Bale Dangin, di tempat ini biasanya sering dilakukan upacara-upacara keagamaan, seperti tempat untuk menaruh banten(perlengkapan untuk upacara Hindu di Bali) dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan upacara keagamaan.
  • Paon(Dapur) , merupakan tempat untuk memasak.
  • Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.
Arsitektur di Bali merupakan suatu keunikan tersendiri. Banyak para peneliti yang mempelajari bagaimana maksud dan tujuan mengapa asta kosali ini di yakini oleh para leluhur di Bali.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
3.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan yaitu kita hendaknya membangun rumah menurut Asta Kosala Kosali agar kita dapat Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi, Mendapat vibrasi kesucian, menguatkan Bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi.










Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar